Analisis Pertandingan Timnas U22 Indonesia vs Mali: Lini Tengah dan Serang Menjanjikan, Namun Finishing Tetap Jadi Masalah Klasik
Kekalahan telak 0-3 yang dialami Tim Nasional U22 Indonesia dalam pertandingan uji coba internasional melawan Mali baru-baru ini menyisakan sejumlah evaluasi penting bagi jajaran pelatih. Meskipun hasil akhir menunjukkan ketidakberdayaan, pengamat sepak bola nasional, Gita Suwondo, menyoroti adanya potensi menjanjikan di lini tengah dan depan skuad Garuda Muda.
Baca Juga : Cedera Dean Huijsen Menjadi Alarm Bahaya Bagi Timnas Spanyol dan Real Madrid
Potensi Positif di Lini Tengah dan Serang
Gita Suwondo, yang akrab disapa Bung GAZ, mengakui bahwa secara permainan, potensi Timnas U22 Indonesia cukup menjanjikan. Ia mencontohkan alur bola yang baik ketika gelandang bertahan dimainkan oleh Ivar Jenner.
“Secara permainan sebenarnya menjanjikan sih di depannya, tadi kalau Ivar Jenner jadi DM (defensive midfielder) dia beberapa kali kerja sama Rafael Struick dengan Dony Tri jalan,” ujar Bung GAZ kepada Kompas.com.
Menurut analisisnya, peluang Timnas Indonesia U22 untuk meraih hasil yang lebih baik sebenarnya terbuka lebar. Hal ini dikarenakan Timnas U22 Mali dinilai tidak tampil dalam performa terbaiknya dan banyak melakukan kesalahan, terutama di lini pertahanan.
Pemain-pemain kunci Indonesia, seperti Dony Tri Pamungkas, Mauro Zijlstra, Rahmat Arjuna, Ivar Jenner, dan Rafael Struick, disebut sempat berhasil membaca celah tersebut dan menciptakan beberapa gelombang serangan berbahaya ke area pertahanan Mali.
Masalah Klasik: End-Passing dan Penyelesaian Akhir
Meskipun potensi serangan terlihat, serangkaian tekanan yang dilancarkan Garuda Muda berakhir sia-sia karena tidak mampu dikonversi menjadi gol. Masalah klasik yang dihadapi sepak bola Indonesia, yaitu penyelesaian akhir (finishing), kembali menjadi catatan utama.
Gita Suwondo mengamati bahwa pertahanan Mali memiliki kelemahan yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
“Apalagi sisi kanan pertahanan Mali itu agak kebuka dan lini belakang Mali kan kelihatan tidak banyak konsentrasi, kelihatan mereka mainnya sembrono, kebanyakan melakukan kesalahan di daerah sendiri,” tutur Gita Suwondo.
Namun, kemampuan eksploitasi celah ini terhambat oleh masalah di sepertiga akhir lapangan. Ia menyimpulkan bahwa kegagalan terbesar terletak pada umpan kunci dan eksekusi akhir.
“Cuma balik-balik lagi, Indonesia tidak mampu memberikan end-passing yang kemudian berujung menjadi peluang dan gol,” imbuhnya.
Meskipun Ivar Jenner berhasil memberikan kontribusi signifikan dalam mengalirkan bola hingga mendekati kotak penalti, efektivitas serangan terhenti pada masalah penyelesaian akhir yang menjadi pekerjaan rumah (PR) yang tak kunjung terselesaikan bagi tim pelatih dan para pemain depan.