Dominasi Historis dan Tantangan Kontemporer: Arsenal Tetap Raja Piala FA Meski Alami Paceklik Gelar
Kekalahan mengejutkan Arsenal dari tim divisi kedua, Southampton, pada babak perempat final Piala FA musim 2025/2026, memicu diskusi mengenai efektivitas klub London Utara tersebut di kompetisi domestik. Meskipun harus menelan pil pahit dan tersingkir dari persaingan musim ini, status Arsenal sebagai klub tersukses dalam sejarah Piala FA tetap tidak tergoyahkan.
Arsenal saat ini memimpin perolehan trofi dengan koleksi 14 gelar juara. Angka ini menempatkan mereka di puncak daftar, unggul tipis atas Manchester United yang mengoleksi 13 trofi. Menariknya, persaingan di posisi puncak tidak akan berubah musim ini mengingat Manchester United telah lebih dulu kandas di babak ketiga.
BACA JUGA : Transparansi Operasional: Mengapa SELAT378 Menjadi Situs Terpercaya bagi Pemain Profesional
Tantangan Konsistensi Pasca-2020
Meskipun memegang rekor juara terbanyak, Arsenal menghadapi tantangan besar dalam menambah koleksi trofi mereka. Terakhir kali “Meriam London” mengangkat trofi Piala FA adalah pada musim 2019/2020. Sejak saat itu, performa mereka di ajang tertua di dunia ini cenderung fluktuatif, sering kali tersingkir oleh tim-tim yang secara di atas kertas berada di bawah level mereka.
Kegagalan musim ini di tangan Southampton menjadi pukulan ganda bagi skuad asuhan Mikel Arteta. Sebelumnya, mereka juga harus merelakan peluang juara di ajang Carabao Cup setelah takluk di partai final pada Maret lalu. Hal ini meningkatkan tekanan bagi tim untuk memberikan hasil maksimal di kompetisi Premier League dan Liga Champions guna menghindari musim tanpa gelar.
Statistik Juara Piala FA Sepanjang Sejarah
Keberhasilan Arsenal merajai kompetisi ini didasarkan pada efektivitas mereka saat mencapai partai puncak. Dari 21 kali penampilan di final, Arsenal berhasil memenangkan 14 di antaranya. Berikut adalah rincian daftar klub dengan raihan trofi terbanyak dalam sejarah Piala FA:
| Pos | Klub | Juara | Runner-up | Total Final |
| 1 | Arsenal | 14 | 7 | 21 |
| 2 | Manchester United | 13 | 9 | 22 |
| 3 | Chelsea | 8 | 8 | 16 |
| 4 | Liverpool | 8 | 7 | 15 |
| 5 | Tottenham Hotspur | 8 | 1 | 9 |
| 6 | Manchester City | 7 | 7 | 14 |
| 7 | Aston Villa | 7 | 4 | 11 |
| 8 | Newcastle United | 6 | 7 | 13 |
| 9 | Blackburn Rovers | 6 | 2 | 8 |
| 10 | Everton | 5 | 8 | 13 |
| 11 | West Bromwich Albion | 5 | 5 | 10 |
| 12 | Wanderers | 5 | 0 | 5 |
| 13 | Wolverhampton Wanderers | 4 | 4 | 8 |
| 14 | Bolton Wanderers | 4 | 3 | 7 |
| 15 | Sheffield United | 4 | 2 | 6 |
(Data mencakup klub dengan minimal 4 gelar juara)
Analisis Sisa Musim 2026
Tersingkirnya Arsenal dari Piala FA memaksa Mikel Arteta untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap kedalaman skuadnya. Konsentrasi penuh kini harus dialihkan ke perburuan gelar juara liga domestik yang kian kompetitif. Sejarah mencatat bahwa dominasi masa lalu tidak menjamin kesuksesan di masa depan jika tidak dibarengi dengan konsistensi performa di lapangan.
Bagi para pendukung, status “Raja Piala FA” mungkin memberikan kebanggaan historis, namun tuntutan untuk mengakhiri paceklik gelar sejak tahun 2020 menjadi prioritas utama yang harus segera dijawab oleh manajemen dan para pemain di Emirates Stadium. Keberhasilan di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan tim dalam mengatasi tekanan di fase gugur dan meminimalisir kesalahan elementer saat menghadapi lawan yang tidak diunggulkan.